8

Ilustrasi dalam video ini menyajikan  gambaran salah satu cara mengembangkan motorik kasar dan bahasa anak TK melalui  kegiatan tebak pantomim, yang merupakan salah satu alternative kegiatan untuk mengembangkan kemampuan motorik anak, dalam menstimulasi kemampuan anak bergerak, kelenturan, keseimbangan dan perkembangan gerakan lainnya. Selain itu, kegiatan tebak pantomime ini juga melatih perkembangan bahasa anak, yaitu kemampuan menyimak, mengekspresikan diri dan mengenal kosa kata agar lebih baik lagi.

Ditulis oleh: Agus Tatang

Setelah melihat tayangan video dan sinopsis tadi bagaimana tanggapan anda sebagai guru AUD. Kita sering menjumpai atau bahkan pernah mengalami pembelajaran seperti itu, mari kita diskusikan bersama :

1. Mengapa masih banyak anak yang belum memahami apa yang disampaikan oleh bguru ?

2. Apa yang bisa Anda pahahami kelebihan dan kekurangan dalam pebmelajaran tersebut ?

3. Coba Anda perhatikan tayangan video tadi, bagian mana pengembangan motorik halus, dan pengembangan motorik kasar ?

4. Berikan contoh kasus pembelajaran yang pernah anda alami ?

5. Bagaimana cara anda mengatasinya ?

 

LINK VIDEO

Answered question

1. Karena anak belum terkondisikan dengan baik sehingga perhatian anak kurang maksimal terhadap penjelasan yang diberikan oleh guru
2. Kelebihannya:
Kegiatan tersebut akan sangat menarik bagi siswa karena dilakukan dengan cara bermain dan bervariasi
Kekurangannya :
Membutuhkan waktu yang lebih lama
3. Bagian motorik halusnya adalah ketika anak melakukan kegiatan melempar bola
Sedangkan motorik kasarnya adalah ketika anak berjalan zig-zag.
4. Kasus yang pernah dialami:
Ketika kegiatan senam bersama ada beberapa anak yang tidak mau mengikuti gerakan senam.
5. Hal yang dilakukan guru:
Memberikan pendekatan pada siswa yang tidak mau mengikuti gerakan senam, memberi pengertian dan pendampingan pada siswa tersebut.

Hasil analisa saya dalam video pantomim tersebut adalah
Dari video yang saya amati dalam permainan pantomim tersebut,disini terlihat adanya motivasi yang diberikan guru terhadap anak didiknya,ini terlihat guru sangat siap dengan alat penunjang kegiatan yang akan di lakukan seperti media gambar yang akan di peragakan. Guru juga memberikan anak kesempatan untuk bertanya dan menjawab sehingga perkembangan bahasa anak dapat di stimulus. Guru juga membantu memperagakan gerakan kepada anak yang masih membutuhkan bimbingan sehingga anak dapat memahami pembelajaran tersebut. Guru juga memberi motivasi anak untuk mencoba sehingga perkembangan fisik motorik anak dapat di stimulus dgn baik.

1. masalah anak yang mash banyak belum memahami apa yang di sampaikan guru bisa jadi karena guru menyampaikan atau menjelasan yang di berikan guru tidak dengan bahasa yang sederhana sehingga anak sulit memahami apa yang di sampaikan dan juga karena guru menyampaikannya terlalu cepat.
2. kelebihan pembelajaran yang di sampaikan yaitu kegiatan yang di lakukan bervariasi dan menarik minat anak karena di lakukan dengan bermain, yang mana sesuai dengan karakteristik anak sehingga tujuan pembelajaran tercapai.
kekurangan pembelajaran yang di sampaikan adalah guru menjelaskan permainan tersebut terlalu terburu-buru , guru tidak memberi reward berupa pujian atau tidak menghiraukan anak yang berani mengemukakan pendapatnya, melainkan anak di suruh diam dengan memberi isyarat meletakkan telunjuk di bibirnya dan tetap melanjutkan menjelaskan kepada anak.
3. pengembangan motorik halus pada kegiatan pembelajaran tersebut saya tidak menemukan pengembangan motorik halus pada kegiatan pembelajaran tersebut
– pengembangan motorik kasar pada kegiatan pembelajaran tersebut adalah melompat sesuai angka dadu yang muncul

1.bisa jadi karena bahasa guru yang kurang dipahami anak, sehingga tidak semua anak mampu mengerti dan paham apa yang disampaikan guru.

2. kelebihan : kegiatan bermain bervariasi dan menarik bagi anak
kekurangan: guru kurang memperhatikan anak ketika melakukan permainan, sehingga guru tampak asik sendiri.

3. pengembangan motorik halus belum muncul. Dan pengembangan motorik kasar yaitu saat anak melakukan gerakan senam, permainan pantomim, melompat zigzag, menirukan gerak sesuai gambar

4. kasus yang pernah saya alami adalah saat melakukan kegiatan kolase (mengisi pola) beberapa anak saja yang mampu melakukannya. walaupun kegiatan kolase dilakukan berulang kali pada waktu yang berbeda

5. Menurut saya mengatasi kasus diatas saya harus menjelaskan cara dan teknik kolase secara bertahap dengan kosa kata yang dipahami anak, saya harus mencontohkan kepada anak dengan pelan dan tidak tergesa-gesa, saya harus memotivasi anak ketika melakukan kegiatan, supaya anak tidak merasa bosan dan tidak menyelesaikan tugas kolasenya.

1. Masalah yang timbul pada anak itu adalah anak yang kurang memahami tentang bahasa ibu guru terhadap anak atau muridnya. Penyampaian guru terhadap muridnya terlalau cepat sehingga anak kurang memahami tentang apa yang di ucapkan gurunya lalu bahasa penyampian ibu guru tidak sederhana.

2. Kelebihan dalam pembelajaran tersebut adalah kegiatan yang dilakukan pada hari itu sangat menarik bagi anak sehingga anak dalam kegiatan berantusias untuk mencobakan gerakan yang diberikan oleh ibuk gurunya dan ini sesuai dgn karakteristik anak Usia Dini.

Kekurangan dalam pembelajaran tersebut adalah guru dalam menjelaskan pembelajaran secara terburu buru, anak yang telah berhasil melakukan gerakan tidak diberikan pujian/ reward oleh gurunya, guru menyuruh anak yang tidak menirukan gerakan diam dan guru mengasih isarat telunjuk di bibir supaya anak tersebut diam.

3. Pengembangan motorik halus pada video tersebut adalah, menurut saya tidak ada pengembangan motorik halus dalam video tersebut.

Pengembangan motorik kasar pada video adalah menirukan gerakan kodok, menirukan pohon di tiup angin, melompat sesuai angka dadu yang muncul, dan berjalan zig – zag.

4. Kasus yang pernah saya alami dalam pengembangan motorik adalah pada saat berbaris pagi, ada anak yang belum bisa menirukan gerakan pada saat berbaris contohnya hormat pada bendera.

5. Menurut saya cara mengatasinya adalah mengajak anak untuk latihan hormat sambil bernyanyi sehingga tangan anak tidak kaku lagi untuk hormat.