36

Ada beberapa kemampuan dasar yang harus dikuasai guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, di antaranya keterampilan mengelola kelas. Guru harus mampu bagaimana mengelola kelas untuk pembelajaran klasikal dan cara yang harus dilakukan dalam mengelola pembelajaran secara kelompok. Dalam tayangan veideo ini akan disajikan masalah-masalah yang muncul dalam belajar kelompok serta kiat-kiat yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kerja sama dalam belajar, pembelajaran IPA melalui model pembelajaran kooperatif (cooprativei learning) dengan teknik jigsaw.

Setelah menyimak tayangam video ini, diharapkan Anda dapat membedakan bagai mana cara mengelola pembelajaran secara klasikal dan kerja kelompok. Sehingga masalah-masalah yang kemungkinan muncul dalam pembelajaran kelompok dapat diantisipasi melalui model pembelajaran kooperatif (cooprative leraning) dengan teknik jigsaw yang terdiri dari beberapa tahapan. Unutk lebih jelaskan silahkan simak secara seksama tayangan video ini.

Ditulis oleh: Toto Fathoni

Model cooperatif learning merupakan model pembelajaran yang menitikberatkan pada kolaborasi atau kerjasama siswa dalam pembelajaran. Model cooperatif learning memiliki beberapa teknik seperti Think Pair and Share (TPS), Group Disscusion (GI), jigsaw, Number Head Together (NHT), Student Achievement Divisions (STAD) dan lainnya. Berdasarkan video tersebut, diskusikanlah pertanyaan di bawah ini.

  1. Menurut Saudara pembagian tugas berkelompok yang paling tepat adalah kelompok heterogen (berbeda baik latar belakang siswa, tingkat kecerdasan siswa, atau jenis kelamin siswa) atau kelompok homogen (sama latar belakang siswa, tingkat kecerdasan siswa, atau jenis kelamin siswa?
  2. Berdasarkan video tersebut, pernahkah Saudara menerapkan model cooperatif learning di kelas? Jika iya, teknik apa yang Saudara terapkan dan jelaskan! Jika belum pernah, jelaskan alasan kenapa belum pernah menerapkan model cooperative learning!
  3. Menurut Saudara, apakah pembelajaran dengan model cooperative learning masih dapat diterapkan pada kurikulum 2013? Jelaskan pendapat Saudara!
  4. Buatlah scenario pembelajaran secara ringkas menggunakan model cooperatif learning dengan teknik yang sesuai dalam pembelajaran dalam kelas Saudara!
Posted new comment

1. Pembagian kelompok yang paling tepat menurut saya adalah kelompok heterogen. Dalam kelompok tersebut setiap individu mempunya kelebihan dan kelemahan masing-masing dengan demikian setiap individu dapat saling membantu. Contohnya jika ada salah satu teman yang tidak memahami materi tertentu maka teman yang sudah paham dapat membantu menjelaskan.

2. Team Game Tournament (TGT)

Siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok untuk saling membantu dalam memahami materi dan mengerjakan tugas sebagai sebuah kelompok dan dipadu dengan kompetensi antaranggota dalam bentuk permainan.

3. Ya masih, karena dalam kurikulum13 siswa diharapkan dapat berperan aktif dan kreatif dalam pembelajaran

4. Pertama : guru menyampaikan tujuan dari pembelajaran yang akan dilaksanakan

Kedua :

1. Pembagian kelompok yang paling tepat menurut saya adalah kelompok heterogen. Dalam kelompok tersebut setiap individu mempunya kelebihan dan kelemahan masing-masing dengan demikian setiap individu dapat saling membantu. Contohnya jika ada salah satu teman yang tidak memahami materi tertentu maka teman yang sudah paham dapat membantu menjelaskan.

2. Team Game Tournament (TGT)

Siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok untuk saling membantu dalam memahami materi dan mengerjakan tugas sebagai sebuah kelompok dan dipadu dengan kompetensi antaranggota dalam bentuk permainan.

3. Ya masih, karena dalam kurikulum13 siswa diharapkan dapat berperan aktif dan kreatif dalam pembelajaran

4. • guru menyampaikan tujuan materi pembelajaran yang akan dilaksanakan
• guru membagi kelompok-kelompok kecil heterogen
• guru menyampaikan materi pembelajaran
• guru menjelaskan aturan permainan yg akan dilakukan.
• memberikan penghargaan kepada kelompok yang mendapatkan nilai terbaik dalam permainan tersebut.

Jawaban :

1. Pembagian tugas berkelompok yang paling tepat yaitu kelompok heterogen. Karena perbedaan siswa akan saling menutupi kelemahan satu sama lain dalam kelompok. jika ada salah satu anggota yang masih belum paham maka anggota kelompok yang lain dapat membantu

2. Model pembelajaran cooperative learning dengan teknik talking stik.

Model talking stik diawali dengan guru menyampaikan indikator masalah dari materi yang akan dijadikan sebagai bahan diskusi oleh siswa. Penyampaian materi dilakukan melalui media seperti gambar atau contoh kasus berupa bacaan yang sesuai dengan diskusikan.

Setelah selesai menyampaikan materi, guru akan meminta para siswa untuk bergabung dalam kelompok kecil. Dalam kelompok tersebut para siswa akan diminta untuk mengindentifikasikan penyebab permasalahan, mencari alternatif jalan keluar dan mencari jalan keluar agar masalah tersebut tidak kembali terjadi dan akan diberika satu buah tongkat yg akan digunakan secara bergilir dalam tiap kelompok

3. masih. Karena pada kurikulum 2013 proses pembelajaran nya perlu menggunakan model cooperative learning.

4. Skenario pembelajaran model talking stik
Pertama: Diawali dengan guru menyampaikan indikator
Kedua : guru memberikan tugas membaca sumber secara individu
Ketiga : guru memberikan tongkat kepada kelompok siswa secara acak
Keempat : setiap kelompok menerima tongkat dan diberi pertanyaan
kelima : guru menambahkan pemahaman materi
kelima : guru dan siswa menyimpulkan materi.

Jawaban :
1. Pembagian tugas berkelompok yang tepat menurut saya adalah secara heterogen (berbeda baik latar belakang siswa, tingkat kecerdasan, ataupun jenis kelamin) karena biar dalam satu kelas itu pembagiannya rata dalam arti yang pandai tidak bergabung dengan yang pandai saja, nah pembagian kelompok scr heterogen juga dapat membantu siswa yang kurang dapat memahami suatu materi dengan cara dijelaskan oleh teman sebayanya. Jadi dalam satu kelompok itu rata dan bisa saling membantu satu sama lain.
2. Iya pernah. Saya pernah menerapkan model cooperatif yang throwing rainbowball. Model ini sebenarnya adalah model pembelajaran snowball throwing akan tetapi dalam pelaksanaannya saya memvariasi jenis kertanya berupa kertas warna warni. Alasan saya menggunakan model ini yaitu dapat meningkatkan aktivitas siswa, membuat siswa menjadi tidak bosan dalam pembelajaran apalagi ada step dimana siswa berkumpul lalu melemparkan bola salju dari kertas warna warni yang berisi pertanyaan, meningkatkan antusias siswa dalam pembelajaran. Nah dengan meningkatnya aktivitas belajar siswa ternyata juga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yang meningkat karena antusias siswa yang tinggi didasari rasa semangat dan ingin ikut melakukan sehingga siswa akan lebih mudah memahami materi.
3. Model cooperative learning menurut saya masih bisa digunakan pada kurikulum 2013 tetapi harus disesuaikan dengan materi yang dibahas dan bisa juga digunakan sebagai variasi dalam pembelajaran.
4. Skenario dari model pembelajaran throwing rainbowball (modifikasi dari snowball throwing) yaitu
A. Guru menyampaikan pokok-pokok materi yang akan dibahas.
B. Siswa dapat mengamati dan membaca materi pembelajaran di buku LKS masing-masing.
C. Guru membagi siswa menjadi 4 kelompok dengan salah satu siswa menjadi ketua di setiap kelompoknya.
D. Masing-masing ketua kelompok maju kedepan untuk mendapatkan arahan dari guru tentang kegiatan yang akan dilakukan.
E. Semua ketua kelompok kembali dan menjelaskan kepada anggota kelompoknya.
F. Guru membagikan kertas warna yanh berbeda di tiap tiap kelompok.
G. Tiap tiap kelompok menuliskan pertanyaan pada kertas warna sesuai pembagian materinya.
H. Apabila sudah selesai menuliskan pertanyaan, kertas warna dibentuk seperti bola salju.
I. Semua siwa berkumpul dan masing masing perwakilan kelompok melemparkan bola salju tersebut ke anggota kelompok lain untuk menjawab.
J. Setelah siswa mendapatkan satu bola salju, siswa diberikan waktu berdiskusi untuk menjawab pertanyaan tersebut.
K. Selanjutnya siswa dapay menyampaikan hasil jawabannya.

Menurut saya, pembagian tugas kelompok yang tepat dalam pembelajaran IPA ini adalah kelompok Heterogen (berbeda baik latar belakang siswa, tingkat kecerdasan siswa, maupun jenis kelamin siswa) mengapa saya katakan seperti itu karena pada dasarnya setiap siswa memiliki tingkat kemampuan yang berbeda, jadi jika kita menggunakan pembagian secara heterogen kita dapat menyeimbangkan kemampuan siswa satu dengan yang lainnya dalam hal pengerjaan tugas kelompok agar dimana jika ada siswa yang memiliki kelemahan dalam proses belajar akan termotivasi dengan teman lain dan diharapkan akan lebih giat lagi untuk belajar, juga siswa dapat saling melengkapi kelemahan mereka.
Berdasarkan tayangan di atas saya pernah menggunakan model cooperative learning dengan teknik pembelajaran picture and picture dimana model pembelajaran ini adalah model pembelajaran yang mengandalkan gambar sebagai media dan dipasangkan atau diurutkan menjadi urutan logis sehingga pembelajaran tersebut lebih bermakna.
Menurut saya model cooperative learning masih dapat diterapkan pada kurikulum 2013 tetapi kita sebagai pengajar/guru juga harus dapat menyesuaikan model cooperative learning tersebut dengan materi-materi apa yang akan kita sampaikan kepada siswa, jadi intinya model pembelajarannya harus disesuaikan dengan materi pada kurikulum 2013.
Skenario pembelajaran model pembelajaran kooperatif. Langkah-langkah Pembelajaran:
Guru telah menyusun skenario pembelajaran dan guru memberi arahan;
Guru menyampaikan dan menjelaskan tujuan materi pembelajaran IPA;
Guru mengarahkan siswa untuk membentuk suatu kelompok yang terdiri dari 4 kelompok dan masing masing terdiri dari 4 s/d 5 orang siswa dengan keseluruhan siswa berjumlah 23 siswa;
Guru mengarahkan siswa untuk mencari informasi dalam materi pembelajaran;
Guru menjelaskan masing-masing dari tugas dalam kelompok tentang fungsi dan tugas siswa agar pembelajaran menjadi lebih terarah;
Menjalankan diskusi dalam pembelajaran, guru mengarahkan tentang tujuan pembelajaran, meluruhkan pemahaman siswa yang kurang terarah;
Memberikan siswa kuis, siswa diberi kuis secara individu kemudian hasil dari masing-masing individu digabung untuk dijadikan kelompok;
Memberi penghargaan, guru memberi penghargaan dari kinerja kelompok atas kontribusi, saran, tulisan siswa;
Memberi umpan balik berupa evaluasi tes;
Memberi nilai dari hasil evaluasi;
Memberi tindak lanjut;
Guru menutup kerja kelompok dengan memberi nasehat-nasehat tentang cara kerja kelompok yang baik untuk evaluasi kerja kelompok berikutnya.